Live Casino Baccarat_Sing baccarat method_Online betting_Sports betting_Roulette Cracking

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan baccarat terbaik

Sabah Sports Platformthomas mSabah Sports Platformeraih tanganku Sabah Sports Platformdan menggenggamnya. “Are you really happy Sabah Sports Platformwith me?Sabah Sports Platform”

Tanpa menunggu ucapanku, Thomas menggandengku menuju ke mobilnya.

-Bersambung-

Aku tertawa kecil. “Life sucks. Dia tahu bahasa Inggrisnya jelek, tapi terpaksa demi dapat duit.”

Aku menunduk, menatap jariku yang berada di genggaman Thomas.

Aku mengangguk. Tidak ada keraguan di baliknya.

Sekali lagi, aku seperti kehilangan orientasi waktu.

“Just like you.”

“Marriage.” Seolah ada batu yang menahan kata itu untuk keluar dari mulutku.

“If we really meant together, someday I’ll marry you. Namun untuk saat ini, itu jelas enggak mungkin. Aku sayang kamu, jadi aku enggak mau menarik kamu lebih jauh ke dalam hubungan ini. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri, agar aku bisa lepas dari semua belenggu masa lalu dan menatap masa depan dengan lebih yakin, seyakin kamu,” timpalku.

Sorry. Aku kelewatan,” bisiknya.

“Juga, ketika kamu akhirnya terima ketika aku mengambil tawaran di Aceh, meski awalnya kamu kesal karena aku mengambil keputusan itu tanpa memberitahumu dan membuatmu merasa enggak dihargai. But at the end of the day, kamu menyukainya karena kita enggak perlu ketemu setiap hari, sehingga selama berjauhan, kamu enggak perlu merasa ada seseorang yang secara nyata ada di sisi kamu. I’m just an illusion.”

Aku tersenyum tipis. “Sewaktu beliau nanya, itu jadi momentum besar buatku. Asal kamu tahu, aku pernah memikirkan buat menikah denganmu.”

“Aku tumbuh dengan kekhawatiran masa depan yang enggak jelas. Seumur hidup, aku hanya menumpuk luka. Aku capek, Mas. Aku mau, sekali aja, aku bisa bernapas lega. Di situlah, aku mendapat pemahaman baru dari Bang Ibram.”

Thomas membelokkan mobilnya ke parkiran Hoka Hoka Bento di daerah Blok M.

Sekali lagi aku mengangguk.

Bisa saja aku menggeleng, tapi aku mengangguk di hadapannya. “Tapi enggak kayak yang kamu pikir.”

Aku menghela napas panjang, sebelum memutar tubuh dan menghadap Thomas. Aku meletakkan Teh Botol yang sudah kosong di atas meja, sembari menyiapkan diri untuk mengurai semua yang selama ini kupendam.

Satu-satunya yang seharusnya meminta maaf di sini adalah aku.

“Aku lapar. Kita cari makan, ya.”

Aku mengangguk kecil. “I know. Tapi aku enggak mau kamu menungguku. Kamu berhak mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik, tanpa ada aku yang menahanmu.”

“Then, we’ll meet again and fall in love again. Without any additional baggage on our shoulder.” Aku menyahut yakin.

Sorry, sudah bikin kamu tertekan. Juga karena enggak peka jadi aku enggak tahu masalah apa yang sebenarnya mengganjal pikiranmu.” Thomas berkata lirih.

“Kamu bilang enggak bisa LDR. Kenyataannya, kamu menikmatinya.”

Mungkin, aku sudah hancur sejak sebelum aku menyadari kalau diriku begitu rapuh. Mama yang menyesal sudah melahirkanku, menyalahkanku untuk setiap kegagalan yang dialaminya, membuatku memupuk rasa sakit di dalam hati sampai akhirnya tidak lagi bisa merasakan sedikit saja kebahagiaan. Ayahku yang entah ada di mana. Entah dia menyadari kehadiranku atau tidak. Nenek, satu-satunya sosok yang menjadi tempatku berpegang, lalu meninggalkanku sehingga aku terlunta-lunta sendirian, dan akhirnya membuatku sadar kalau tidak ada satu pun yang bisa menjadi pegangan selain diriku sendiri.

“Gimana kalau kamu yang terbaik untukku?”

It’s not that easy. Semakin aku mencoba, semakin aku merasa tertekan. Bayangan hidup bahagia dengan laki-laki yang kucintai malah membuatku semakin jauh dari diriku sendiri.” Aku menggigit bibir. “Lalu aku merasa kamu mulai mengaturku. Menuntutku untuk menjadi seperti kamu. Dan itu membuatku enggak nyaman.”

Happiness is a butterfly

Try to catch it every night

It escapes from my hands into moonlight

Everyday is a lullaby

I hum it on the phone like every night

And sing it for my babies on the tour life

“Another place to remember me by,” cetusku.

Aku menoleh ke balik pundak dan menatap keramaian di luar sana.

Thomas tertawa kecil. “Sudah enggak terhitung Gultik jadi penyelamat kita malam-malam, apalagi setelah karaokean atau nonton midnight.”

Thomas keluar dari mobil dan menghampiriku. Tanpa suara, dia menarikku ke pelukannya.

Pikiranku masih berkecamuk.

“Sebagai seseorang yang mengklaim dirinya pesimis, ucapanmu barusan terlalu fairy tale, Sasha.”

Please ya, kenapa dia bisa sepede itu nyanyi lagu barat?” bisiknya.

“Tinggal di indekos jelas enggak nyaman, tapi enggak ada keterikatan emosional, juga kontrak jangka panjang, yang membuatmu bisa pergi kapan aja.”

Thomas terdiam, membuatku ikut menutup mulut sementara kami saling berpandangan. Sayup-sayup suara pengamen melantunkan lagu dengan bahasa Inggris yang belepotan menyapa pendengaranku.

“You were right. Aku menyakitimu,” bisikku.

Sekarang Thomas yang bermonolog, sementara aku terdiam seperti patung.

Thomas tertawa kecil sambil mengeratkan genggaman tangannya.

“Bagian mana?”

“Apa Ibram jadi alasan kamu mengambil keputusan ini?” tanya Thomas.

Aku tidak tahu sudah berapa lama terdiam di ruang karaoke, tanpa satu pun lagu yang sempat dinyanyikan. Sampai petugas memberitahu kalau waktu sudah hampir habis, dan aku melenggang keluar ruangan dengan pikiran kosong.

Aku menelan ludah. “Your mother asked me about the M-word.”

Sepertinya ini menjadi momen untukku bermonolog, karena Thomas masih diam dan mendengarkanku.

“M-word?”

Aku hanya melihat satu pilihan karena itu yang terbaik untukku. Setidaknya, itu yang kupikirkan terbaik untukku. Setidaknya, untuk saat ini.

Aku mengangkat wajah untuk menatapnya. “Sorry.”

“Kita menjalin komitmen, tapi karena jarak, kamu enggak merasa terbebani dengan komitmen itu. Aku ada sekaligus enggak ada.”

Mungkin saja aku berbahagia bersama Thomas. Tumbuh tua bersama dalam gelak tawa. Namun, hatiku tidak sekuat itu untuk meyakini bahwa kebahagiaan seperti itu ada.

Aku tidak tahu berapa lama kami saling terdiam hingga akhirnya Thomas memecah keheningan itu dengan tawa. Tawa yang menular kepadaku.

Thomas menatapku dalam diam, hanya tangannya yang bergerak menyantap makanan.

Senyum itu lenyap dari wajahku ketika Thomas menarik kesimpulan yang menyakitkan.

“Perasaan tertekan itu muncul karena aku belum berdamai dengan diriku sendiri.”

“Dan aku membuatmu enggak mengenal siapa dirimu?” ujar Thomas, setelah menandaskan sepiring makanannya.

“Aku bisa menunggu.”

Sambil menahan tawa, aku mengangguk.

“Terus?”

Aku memainkan jari-jariku, sebuah upaya sia-sia untuk menahan semburan emosi yang memerangkapku saat ini.

“Kamu bilang, aku punya plan yang tertata jelas dan berusaha meraihnya. The truth is, I was fed up with my life. Just like you, I don’t know who I am anymore.”

“Bagaimana aku bisa bahagia kalau aku enggak tahu siapa diriku yang sebenarnya?” tanyaku.

Thomas kembali bungkam, hanya tatapannya yang menuntutku untuk terus bersuara.

“I’m in love with you. Ketika tahu sudah jatuh cinta kepadamu, aku memberanikan diri untuk mikirin masa depan yang lain. Aku tahu ada pilihan lain, salah satunya hidup bahagia denganmu. Entah kamu mau percaya atau enggak, tapi aku sempat meyakini pilihan itu.” Aku membuka mulut.

Aku menggeleng. “Bersama kamu membuatku bisa merasakan bahagia itu seperti apa. Itu membuatku candu. Akhirnya, aku melakukan apa saja untuk bisa merasakannya. Termasuk berkompromi dengan hal yang enggak aku suka, agar aku bisa terus bersama kamu. I was pretending.”

“Jadi, itu alasan kamu ingin putus?”

“Di Edinburgh enggak ada Gultik,” cerocos Thomas. Dia mengambil dua kursi plastik biru dan mempersilakanku duduk di salah satunya. Sementara Thomas menyantap makanan tengah malamnya, aku hanya menyeruput Teh Botol.

“I’m sorry if I hurt you. I still love you but I respect your decision.”

Aku mengikuti Thomas keluar dari mobil, melintasi parkiran Hokben yang masih padat di malam larut seperti ini karena ada banyak orang-orang kelaparan di tengah malam dan mencari Gultik sebagai penyelamat.

Suasana di dalam mobil terasa senyap. Thomas bahkan tidak berinisiatif menyalakan radio untuk memecah keheningan. Sementara aku menatap ke luar jendela dan menikmati malam yang masih saja ramai, sekalipun sudah berganti hari.

“Mungkin masih ada sedikit jiwa optimis di dalam diriku.”

“But you don’t want to.”

“Kamu tahu jadi freelancer itu enggak nyaman, tapi bertahan karena dengan begitu, kamu punya kontrol penuh. Kamu memilih buat kelaparan, ketimbang terikat kontrak kerja yang jelas, yang sewaktu-waktu bisa di-PHK. Bukan PHK yang kamu takutkan, tapi kemungkinan untuk dipaksa lepas dari tempat kamu menggantungkan hidupmu,” jelasnya.

“Aku paham sekarang. Kita saling sayang, tapi juga saling menjegal langkah masing-masing karena sejujurnya, kita sudah enggak sejalan.”

“Cuma ini yang buka. Kayaknya,” serunya.

Malam masih ada, sebelum matahari perlahan muncul menandakan hadirnya hari baru. Menjelang saat itu tiba, aku terdiam, dan memberi kesempatan kepada Thomas untuk jujur kepada dirinya sendiri.

Aku menelan ludah, karena sekali lagi, Thomas mengurai kebohongan yang kujadikan sebagai alasan ketika memutuskannya.

“But I need time to be with myself. Agar aku bisa melihat semua pilihan yang ada di depanku dan mengambil keputusan yang tepat,” sahutku.

Thomas menawarkan hubungan yang indah. Namun, itu hanya kebahagiaan semu yang sifatnya sementara. Mungkin aku memang pengecut, memilih untuk menyerah dan bersembunyi dalam rasa takut itu, ketimbang melihat pilihan lain dalam bentuk hidup bersama Thomas.

Keningku berkerut mendengar penuturan Thomas.

Thomas tertawa kecil. “Nyebut kata nikah aja susah ya, Sha.”

“Aku terlalu mencemaskan hal yang seharusnya enggak perlu aku cemaskan. Mungkin untuk saat ini, aku perlu mengambil langkah mundur, dan mencoba untuk menata hidupku. Sesuai dengan yang aku mau. Untuk itu, aku perlu mengenal siapa diriku.”

Thomas sudah pergi. Bukankah ini yang aku inginkan?

Langkahku terhenti ketika di parkiran di depan Inul Vista, aku melihat mobil Thomas. Dia masih di sini.

Thomas tertawa kecil. “Selama di parkiran tadi, aku memikirkan hidupku. You were wrong about me.”

I was broken inside.

Aku yang memutuskannya. Aku yang menginginkan hubungan ini berakhir di sini. Namun, ada rasa pedih yang tidak bisa kuingkari kehadirannya. Ucapan Thomas terus bergema di benakku. Tuduhannya yang membuatku tersudut, hanya karena tuduhan itu berisi kebenaran. Hidup adalah pilihan. Selama ini aku hanya melihat satu pilihan bukan karena tidak menyadari adanya pilihan lain.