Netizen Debat「Online betting company」 Bandingkan Porsi Lauk di Sumatera dan Jawa, Ini Penjelasan Antropolog Halaman 2

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan baccarat terbaik

Gegar budaya makan di tanah rantau

Online beOnline betting companytting companydOnline betting companOnline betting companyyapatkan inforOnline betting companymasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Budaya makan berbeda disebutkan Aji, memang bisa menyebabkan gegar budaya dalam skala mikro. Namun, gegar budaya akan semakin sulit ketika fisik harus beradaptasi.

Namun demikian, Yevita mengaku kurang setuju dengan netizen yang menyebutkan orang Sumatera khususnya Minangkabau harus makan banyak lauk dalam sekali makan.

"Itu keragaman selera dan patut kita syukuri selera etnik Indonesia yang kaya," kata dosen yang akrab disapa Aji.

Dosen Antropologi Universitas Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, menyebutkan perdebatan netizen tenyang budaya makan dapat dikaitkan dengan seseorang memandang makanan dan selera makan. 

"Sebanyak-banyaknya makanan, seorang makan dua lauk sudah membuat kenyang," jelas Yevita.

Baca juga: Bedanya Rendang di Jakarta dan Sumatera Barat, Yuk Pelajari

Baca juga: Filosofi Papeda nan Indah, Makanan Khas Papua yang Tergeser Nasi

Netizen juga menyoroti gegar budaya makan saat harus berpindah atau merantau, dalam hal ini dari Sumatera ke Jawa.

Ia menjelaskan kembali lagi ke budaya makan orang Minang untuk kebersamaan dan berbagi.

Menurut Aji, gegar budaya normal dan sesuatu yang bisa diterima, karena seseorang biasanya lebih nyaman di lingkungan budaya yang sama.

"Konsep makan orang Minang itu lamak atau enak dari berbagai masakan khas, tetapi itu makan untuk beramai-ramai bukan untuk satu orang," jelas Yevita.