Lottery purchase_Baccarat experience_Reliable sports betting platform_Indonesia Lottery Loopholes

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan baccarat terbaik

Jomblo dan tidaGambling Handicapk punya uang mungkin mGambling Handicaperupakan hal yang membuatmu sering merasa begitu sedih dan terpuruk. Dua hal ini serasa menjadikan hidupmu menjadi begitu sengsara. Tapi, kamu tidak boleh depresi karena dua hal itu. Karena ada yang lebih pedih dan lebih sakit sengsaranya daripada kamu yang cuma jomblo dan berdompet kosong.

Selain menjadi pekerja tambang batubara, "orang rantai" juga dikerahkan untuk membangun banyak infrastruktur di Sawahlunto. Misalnya, jalan, rel kereta, stasiun, kantor, rumah sakit dan lainGambling Handicap-lain. Termasuk juga infrastruktur pendukung pertambangan seperti Silo, Info Box, dan sebagainya.

Kalau itu kamu gimana? Bayangin aja, mungkin kamu dari Jawa, Medan, Bugis atau Kalimantan, kemudian Kolonial Belanda menyeretmu ke Sawahlunto untuk dijadikan pekerja paksa mengelola tambang batu bara.

Nah kamu yang cuma menderita karena malam minggu cuma sendirian sudah bisa apa untuk bangsa ini? Atau apa yang sudah kamu lakukan untuk membahagiakan keluargamu?

Maka "orang rantai" adalah pahlawan. Mereka punya jasa yang tak ternilai. Keringat dan darah mereka tidak menetes sia-sia.

Indonesia butuh anak-anak muda yang tangguh seperti "orang rantai" dahulu. Jangan hancurkan Indonesia dengan sikapmu yang baper karena jomblo!

Nah kamu, yang penderitaannya nggak sampai seujung kuku penderitaan "orang rantai" gimana? Masak nggak bisa jadi pahlawan juga? Setidaknya berkontribusi untuk orang yang kamu cinta, keluarga, lingkungan dan bangsa kita tercinta?

Jangan pernah kamu remehkan "orang rantai" ini cuma sebagai pekerja paksa belaka. Jasa mereka sangat besar sekali bahkan bagi dua negara, yakni Indonesia dan Belanda. Kalau tidak karena kontribusi "orang rantai" dalam mengelola tambang batubara, maka darimana Belanda mencari keuntungan untuk menjalankan pemerintahan dan membangun negara mereka?

Kamu harus tahu bahwa orang rantai punya kepedihan dan kesengsaraan yang lebih parah dan lebih njleb daripada status jomblo yang terus kamu pertahankan membuatmu tidak bisa move on itu.

Jomblo nggak ada seupil-upilnya kerja paksa, bro. Penderitaanmu sebagai jomblo cuma sering dibully, kemudian kemana-mana sendirian dan pastinya malam minggu baper sendirian di kamar.

Dan semakin perih karena tidak seperti sekarang. Tidak ada media dan lembaga HAM yang akan membela mereka.

Coba deh bandingkan sama penderitaan "orang rantai" yang kerja paksa itu. Ah, sudahlah……… menyedihkan untuk mengingat penderitaan mereka.

Kamu meninggalkan keluarga, kampung halamanmu. Sementara kalau sudah dibawa ke Sawahlunto sebagai "orang rantai", sama sekali tidak ada jaminan kamu bisa kembali pulang dengan selamat. Syukur-syukur kalau kamu bisa bertahan hidup di "Kota Arang" itu, tapi jangan harap Belanda akan memulangkanmu ke kampung halaman.

Pilih mana? Jadi jomblo atau tenaga kerja phttp://3.bp.blogspot.com/-uG2_Lq-tM8s/Txo_cBhfd0I/AAAAAAAAAQQ/DSok4ZU-xtE/s400/KITLV01_29970_U.JPGaksa kayak gini? via http://3.bp.blogspot.com

Kamu yang tidak dirantai, tidak disiksa untuk bekerja masak cuma bisa galau kepo-in mantan saja?

Gimana? Mana yang lebih tragis daripada status jomblo atau dompetmu yang lagi kosong?

Bagi Kolonial Belanda waktu itu, "orang rantai" mungkin adalah para pemberontak. Namun sebenarnya "orang rantai" adalah pahlawan, tidak hanya bagi Indonesia namun juga Belanda. Tanpa "orang rantai", tambang batubara di Sawahlunto belum tentu dapat dikelola dan Belanda belum tentu mendapat kekayaan berlipat ganda dengan bisnis batubara itu.

Nah, keunikan dan keindahan arsitektur bangunan kota tua Sawahlunto sekarang adalah hasil kerja "orang rantai" itu. Begitulah, dalam pedihnya tekanan kerja paksa namun karya mereka ternyata luar biasa. Salut!

Merdeka!

Jangan salah, meski tidak langsung namun keringat dan darah "orang randai" turut membangun Kota Amsterdam dan lainnya di Belanda sana.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Hebat kan?