Lottery App_Bodog Sports Platform_Indonesian Chess_Bookmaker website_Gambling app

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan baccarat terbaik

atau yang begini nih…

Tapi-nya itu menunjukkan mereka punya rasa sedikit tidak rela melepaskan kamu ke perantauan. Mereka takut kamu kelaparan dan kurang makan.

Aaawww… Sweet sih, tapi…

Orang tua Indonesia punya keunikan yang tidak dimiliki oleh orang tua lain di dunia. Nggak ada hujan, nggak ada angin, orang tua kita sering menghujani anaknya dengan kelakuan atau kata-kata ajaib yang bisa buat kita tepok jidat. Dan ujung-ujungnya, cuma buat kita menghela nafas panjang.

“Kamu kok gendut dek?”

Melihat anaknya pulang dari perantauan membuat orang tua kita bersemangat. Mereka akan mempersiapkan kedatanganmu di rumah. Jauh-jauh hari mereka akan bolak-balik nelpon kamu untuk tanya,

Kalau dilihat lebih dalam lagi, tipe orang tua di Indonesia memang unik dan berbeda dari orang tua di negara lain. Kenapa? Simak yuk!

Orang tua kita hanya tidak rela melihat anaknya susah. Mereka akan melakukan apa saja untuk membuat anaknya bahagia. Orangtua kita melakukan hal-hal ajaib atas nama cinta.

Orang tua kita tidak hanya senang ada anak kecil di rumah. Mereka akan sangat senang bisa membantu anaknya membiayai pendidikan cucunya kelak. Mereka ingin melihat cucunya bisa sekolah dan bisa menjadi orang hebat.

“Kapan nikah? Anaknya tante Sari tahu nggak? Cantik loh.”

Saat kamu mulai menginjak umur 23, orang tua mu pun mulai gencar bertanya,

Semoga artikel ini bisa jadi refleksi bagimu untuk lebih menghormati kedua orang tua, ya!

“Pacar kamu siapa? Anaknya siapa? Kerja dimana? Kamu harus perhatiin bibit, bebet, bobotnya loh.”

Atau,

Baru juga masuk kuliah, lulus juga masih lama, sudah ada pertanyaan begitu. Ajaib banget ya!

Pesta pernikahan pun dimulai dan kamu bingung dengan tamu-tamu yang datang ke nikahanmu. HAHAHA!

Bapakmu: “Kamu mau dibeliin rumah dimana, Nak? Atau mau pakai rumah yang di Jalan xxxx aja?”

“Kamu jangan kurus-kurus ya, nanti nggak ada cowok yang mau deketin loh.” (pengalaman asli penulis)

“Kok celananya pendek? Kok bajunya begitu?”

“Anaknya tante Sri sudah kerja di bank loh. Kamu kapan kerja?”

Mamak: “Ya dipesen dari sekarang. Nanti keburu mahal!”

Kamu: “Iya Mak, liburannya juga masih bulan depan.”

Ortu: “Temani mama ke pesta yuk.”

Sering kali kita mendengar orang tua kita membanding-bandingkan diri kita dengan saudara kita atau anak dari teman orang tua kita yang lebih dulu lulus atau lebih dulu dapat kerja. Banyak ragam perbandingan yang diucapkan orang tua kita. Bosen nggak sih.

Menjelang pernikahan, mereka akan sangat sibuk mengurus ini itu. Bahkan mereka yang lebih sibuk daripada kamu. Ngomongin tentang biaya pernikahan, mereka akan langsung memberikan segala apa yang mereka punya demi menggelar pesta besar-besaran untuk anaknya. Mereka rela pinjem duit ke bank atau gadai emas :’)

Mereka dengan senang hati merawat cucu mereka. Apalagi jika cucu pertama, orang tua akan sangat sayang pada cucunya daripada kamu, yang anak mereka sendiri.

Pertanyaan satu ini agaknya sedikit menohok bagi anak perempuan. Keperawanan dipertanyakan. Kalau anak perempuannya sudah tidak perawan, murkalah orang tuanya. Bagaimana dengan yang laki-laki? “Bang, masih perjaka nggak?” Pernah nggak ada orang tua yang bertanya begitu ke anak laki-lakinya?

Buat anak laki-laki nih, biasanya orang tua akan memberikan wejangan-wejangan panjang menjadi kepala keluarga yang baik.

Ada udang di balik batu. Pertanyaan yang menjurus ke arah perjodohan antar teman masa muda. Orang tua di Indonesia pasti dengan bangga memperkenalkan anaknya yang cantik ke teman-temannya dan bersiaplah konspirasi jodoh pun dimulai.

Orang tua di Indonesia gemar menggendong anaknya kemana-mana. Apalagi kalau anaknya lucu dan menggemaskan. Tidak jarang orang asing datang mendekat dan pegang-pegang si adek bayi.

“Tuh ada lowongan PNS, coba aja.”

“Coba kamu lihat si Anton. Bagus dia tuh sekolahnya.”

atau ortu kamu mulai melontarkan pernyataan begini,

Setiap orang tua ingin menyekolahkan anaknya ke jenjang yang tinggi. Mereka menyuruhmu untuk masuk ke sekolah favorit karena kualitasnya bagus Padahal kamu ingin sekolah di tempat lain. Begitu juga saat kamu masuk kuliah. Mereka pasti menyuruhmu untuk masuk ke universitas ternama. Mereka rela mengeluarkan biaya berapapun untuk melihat kamu sekolah di tempat yang bagus.

Nggak nyoba kerja di kantor sana?”

“Nanti kalau kamu nikah, jadi kepala keluarga yang bener. Jangan malas-malasan.”

Dari masih kuliah aja udah ditanyain cucu. Pas udah nikah dan akhirnya kamu memberikan mereka cucu, orang tuamu dan mertuamu pasti langsung menawarkan diri untuk jagain anakmu. Terkadang mereka bisa rebutan, buat jagain anakmu.

Ketika kamu ingin kuliah atau sekolah di tempat yang jauh dari orang tua, mereka sih jawabannya, IYA, tapi. Nah, itu pasti ada tapinya…

:’)

Anak muda jaman sekarang doyan pake baju yang gaul, sedikit terbuka, dan agak mini. Sekalinya kamu mau jalan sama temen-temen kamu, kamu harus dihadapkan dengan komentar panjang dari bapak atau  ibu.

“Tadi mama makan terus ingat kamu sama adek. Jadi mama bawain aja.”

“Jamannya bapak itu dulu nggak punya henpon, tapi bapak bisa tuh dapetin ibumu. Kamu, sudah dikasih henpon, motor, masih ngeyel. Aneh-aneh aja.”

Ibu-ibu yang paling doyan ngelakuin begini. Pulang dari kondangan dan membawa bungkusan makanan, pas ditanya kenapa bawa makanan, jawabannya,

“Kamu kok dikuliahin bagus-bagus, masih kurus-kurus aja?” (Apa hubungannya kuliah sama berat badan, coba?)

Orang tua di Indonesia masih menganggap PNS adalah sebuah jaminan keberhasilan untuk masa depan. Kerja di kantor adalah kerja yang ‘wow’ buat mereka. Mereka akan  sangat bangga jika ada anaknya yang berhasil jadi PNS.

Mereka tidak hanya akan mengomentari penampilan baju kita. Badan pun juga dikomentarin,

Karena kamu anak yang paling disayang, dan mereka senang, mereka tidak segan-segan menawarkan untuk membelikan rumah buatmu dan pasanganmu. Mereka tidak mau melihat kamu harus mengontrak rumah kecil, mereka tidak mau melihat cucunya kelak harus hidup susah.

Membandingkan ke jaman orang tua menjadi hal yang biasa kita dengar dipercakapan kita sehari-hari. Orang tua kita biasa mengeluarkan ucapan ini kalau sudah melihat ada yang aneh-aneh terjadi di sekelilingnya.

Orang tua mana yang ingin melihat anaknya kesakitan saat melahirkan? Menjelang kelahiran cucunya, dia akan sangat bersemangat dan rela mengambil cuti sementara waktu untuk menemani anaknya melahirkan dan melihat cucunya lahir.

Kamu: *bersyukur dalam hati, berarti gak usah ribet KPR*

“Anak jaman sekarang kok aneh-aneh. Coba dulu, jamannya bapak, nggak ada itu yang namanya nongkrong. Pulang sekolah langsung pulang. Mainnya ya pas sore.”

Sebenarnya kita nggak lapar-lapar banget. Kita hanya bisa bertanya-tanya, apa hubungan makanan kondangan sama anak?

Mamak: “Tanggal berapa pulang? Pesan tiket dari sekarang.”

IKAN TERI PEDAS!!!

“Jamannya bapak sama ibu kan beda sama jaman sekarang”, dalam hati kita pasti ngomong begitu.

“Mau dimasakin apa?”

Karena kamu adalah anak cewek satu-satunya atau anak bungsu atau sulung dalam keluargamu, orang tuamu menggelar kondangan besar-besaran. Saking senengnya tuh ya begitu…

Kamu: (menatap sinis ortumu, penuh curiga)

DALAM HATI: PAK BU, AKU LELAH BU! LELAH!

Perlakuan orang tua terhadap kita pasti punya maksud baik dibaliknya. Sebelum bereaksi keras dan menyakiti hati mereka, ingat lagi yuk seberapa besar pengorbanan yang sudah mereka lakukan untuk kita.

HP mu berdering, dan tiba-tiba…

Mengakulah, orang tua kita pasti pernah melontarkan pernyataan begini,

Jamannya bapak dulu… Jamannya ibu dulu…

Ketika kelak sudah jadi orang tua, kamu akan sadar apa yang selama ini dirasakan oleh orang tuamu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan memahami alasan mereka melakukan hal-hal ajaib terhadapmu.

Orang tua kita senang mengeluarkan komentar-komentar ajaib tentang penampilan kita. Sayangnya mereka cuma doyan komentar, tapi uang jajan nggak ditambah buat beli baju.

Kan kasian pipi adeknya habis dipegang-pegang.

(Kamu baru saja menikah)

“Ih, lucu banget.” 

Orang tua kita rela melakukan apa saja untuk anaknya via www.flickr.com